Riset IPB–TSE Buktikan Hutan Produksi Masih Jaga Habitat Cenderawasih dan Kura-kura Moncong Babi Papua

0
14
Riset IPB–TSE Buktikan Hutan Produksi Masih Jaga Habitat Cenderawasih dan Kura-kura Moncong Babi Papua

KitaBogor – Penelitian jangka panjang selama empat tahun yang dilakukan IPB University bersama Tunas Sawa Erma (TSE) Group menunjukkan bahwa pengelolaan hutan produksi dan lanskap sungai secara bertanggung jawab masih mampu mempertahankan habitat satwa ikonik Papua, yakni Cenderawasih Kuning-Besar dan Kura-kura Moncong Babi.

Temuan tersebut dipaparkan dalam Seminar dan Lokakarya Konservasi Hidupan Liar bertema Melindungi Ikon Papua: Pemantauan Jangka Panjang Kura-kura Moncong Babi dan Cenderawasih yang digelar di Bogor, Jumat (6/2/2026). Kegiatan ini menjadi forum pemaparan hasil riset kolaboratif yang telah berlangsung sejak 2022.

Penelitian terhadap Cenderawasih Kuning-Besar mencatat lebih dari 100 individu masih teridentifikasi di dua konsesi hutan produksi dengan sistem tebang pilih. Tim peneliti juga mendokumentasikan perilaku kawin (lekking), serta mengidentifikasi pohon pakan dan pohon lek sebagai elemen penting kelangsungan populasi.

Peneliti IPB University, Prof. Dr. Ani Mardiastuti, menyebut pengelolaan hutan produksi yang mempertahankan area bernilai konservasi tinggi (HCV) terbukti dapat mendukung konservasi burung endemik. “Hutan produksi yang dikelola secara bertanggung jawab tetap mampu menjadi habitat Cenderawasih, bahkan berpotensi untuk ekowisata pengamatan burung,” ujarnya.

Sementara itu, penelitian pada Kura-kura Moncong Babi menunjukkan tantangan berbeda. Curah hujan ekstrem dan banjir di Sungai Kao menyebabkan beberapa kegagalan peneluran. Peneliti Prof. Dr. Mirza D. Kusrini menegaskan pentingnya pemantauan jangka panjang untuk memahami dampak perubahan iklim terhadap siklus hidup satwa.

Direktur TSE Group Wicklief F. Leunufna menambahkan, kolaborasi riset ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan menjalankan operasional berbasis keberlanjutan.

Secara keseluruhan, riset ini diharapkan menjadi rujukan bagi pemerintah daerah, dunia usaha, dan pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan konservasi berbasis sains demi menjaga ekosistem Papua di tengah tekanan perubahan iklim. (Hen)

Previous articleDFSK Perkenalkan Logo dan Slogan Global “Drives for Better” di Indonesia, Tegaskan Komitmen Jangka Panjang
Next articleTank 500 Diesel Resmi Meluncur di IIMS 2026, SUV Mewah Diesel Harga Mulai Rp799 Juta