Kitabogor – Istilah super flu digunakan untuk menggambarkan virus influenza yang mengalami mutasi sehingga menjadi lebih menular, lebih sulit ditangani, atau menimbulkan gejala yang lebih berat dibandingkan flu musiman. Meski bukan istilah medis resmi, sebutan ini kerap digunakan untuk menyoroti potensi wabah flu. Yang dapat berdampak luas bagi kesehatan masyarakat.
Menurut dr. Alvira Rozalina, Sp.PD, Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Premier Bintaro, virus influenza memang dikenal sangat mudah berubah. “Virus ini memiliki kemampuan mutasi yang tinggi. Sehingga sewaktu-waktu dapat muncul varian baru yang lebih agresif dan berisiko menimbulkan wabah besar,” jelasnya.
Secara ilmiah, mutasi virus influenza terjadi melalui dua mekanisme utama. Pertama adalah antigenic drift, yaitu perubahan kecil yang terjadi secara bertahap dan umumnya menyebabkan flu musiman. Kedua adalah antigenic shift, yakni perubahan besar dan mendadak yang berpotensi memicu wabah luas hingga pandemi. Super flu sering dikaitkan dengan antigenic shift, terutama ketika virus dari hewan seperti unggas atau babi menular ke manusia dan berhasil beradaptasi.
Gejala super flu pada dasarnya mirip dengan flu biasa, namun intensitasnya lebih berat. Penderitanya dapat mengalami demam tinggi mendadak, batuk parah disertai sesak napas, nyeri otot hebat, kelelahan ekstrem, hingga komplikasi serius seperti pneumonia. Kelompok rentan—termasuk lansia, anak-anak, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis—memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi berat.
Jika menyebar luas, super flu dapat membebani sistem pelayanan kesehatan. Meningkatkan angka rawat inap dan kematian, serta mengganggu aktivitas ekonomi dan pendidikan. Karena itu, pencegahan menjadi langkah utama.
Vaksinasi influenza tahunan, menjaga kebersihan tangan, menggunakan masker saat sakit, menerapkan pola hidup sehat, serta deteksi dini merupakan upaya penting untuk menekan risiko penyebaran.
“Kesadaran masyarakat dan kesiapsiagaan tenaga kesehatan menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman flu yang lebih berbahaya di masa depan,” tutup dr. Alvira.
Untuk diagnosis dan penanganan yang tepat, masyarakat dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis di RS Premier Bintaro. (Hen)


