Ketika Desain, Produksi, dan Pasar Bertemu: Arah Baru Industri Furnitur Indonesia

0
7
Ketika Desain, Produksi, dan Pasar Bertemu: Arah Baru Industri Furnitur Indonesia

Kitabogor – Di balik kuatnya identitas furnitur Indonesia sebagai produk bernilai seni dan budaya, tersimpan tantangan besar untuk menembus panggung global. Data Badan Pusat Statistik mencatat, sepanjang 2025 ekspor mebel Indonesia menyumbang sekitar 12,2 persen dari subsektor kerajinan. Angka ini menempatkan furnitur sebagai industri bernilai tambah, namun di pasar global yang nilainya mencapai ratusan miliar dolar AS per tahun, kontribusi Indonesia masih berada di bawah satu persen.

Kesenjangan ini bukan soal kualitas atau potensi sumber daya, melainkan soal keterhubungan. Rantai nilai furnitur—mulai dari material mentah, teknologi produksi, desain, hingga akses pasar internasional—masih memerlukan integrasi yang lebih kuat. Di sinilah desain, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor menjadi penentu arah masa depan industri furnitur nasional.

Di tingkat global, pameran internasional kini bertransformasi dari sekadar ajang pamer produk menjadi ruang strategis. Yang mempertemukan desain, teknologi, dan pasar. Bagi Indonesia, pameran berperan sebagai pintu masuk penting untuk memperluas jejaring di Asia Tenggara dan dunia, sekaligus mempertemukan pelaku industri dengan pembeli, mitra material, serta jaringan distribusi internasional dalam satu ekosistem.

Sementara itu, perubahan gaya hidup di dalam negeri turut membentuk wajah baru desain furnitur Indonesia. Pertumbuhan hunian berukuran kecil, khususnya di kawasan urban, melahirkan kebutuhan akan furnitur modular, ringkas, dan multifungsi. Desain tak lagi hanya berbicara soal estetika, tetapi tentang efisiensi ruang dan fleksibilitas hidup.

Tren tersebut kian menguat seiring meningkatnya pasokan apartemen di Jakarta yang telah menembus 230 ribu unit dengan tingkat hunian mendekati 88 persen. Di saat yang sama, pemulihan sektor pariwisata dengan 13,9 juta kunjungan wisatawan mancanegara turut mendorong permintaan furnitur dan interior untuk hotel, vila, hingga akomodasi jangka pendek—di mana desain interior menjadi elemen kunci pengalaman ruang.

Menjawab dinamika tersebut, Amara Group dan Koelnmesse GmbH menghadirkan langkah strategis. Dengan mengintegrasikan empat pameran utama lintas sektor—material, manufaktur, furnitur, dan interior—ke dalam satu platform industri terpadu. Mulai 2026, rangkaian pameran ini akan digelar secara co-located pada 23–27 September 2026 di NICE PIK 2 dan JIExpo Kemayoran, Jakarta. Dengan target 800 exhibitor, 15.000 pengunjung, dan partisipasi dari lebih dari 20 negara.

Platform ini diperkenalkan sebagai Indonesia Materials, Manufacturing & Furniture Connect. Sebuah ekosistem yang menjembatani seluruh rantai nilai furnitur dari hulu ke hilir. Tak hanya membuka akses pasar internasional, inisiatif ini juga memberi ruang strategis bagi pelaku kreatif dan UMKM. Untuk terlibat langsung dalam ekosistem industri global.

“Penyelarasan lintas sektor ini merupakan tonggak penting bagi pengembangan platform industri di Indonesia dan Asia-Pasifik,” ujar Mathias Küpper, Managing Director dan Regional President Asia Pacific Koelnmesse Pte Ltd. Menurutnya, menyatukan material, manufaktur, dan furnitur dalam satu ekosistem terkoordinasi membuka peluang kolaborasi yang lebih relevan antara desain, industri, dan pasar.

Kolaborasi ini turut melibatkan pengelolaan bersama IFFINA+, interzum jakarta, International Hardware Fair Indonesia, serta IFMAC WOODMAC bersama Wakeni. Dengan sekitar 50 persen partisipasi UMKM di IFFINA+. Pekan industri ini diharapkan menjadi katalis bagi penguatan daya saing furnitur Indonesia di pasar global.

Lebih dari sekadar pameran, Indonesia Materials, Manufacturing & Furniture Connect dirancang sebagai ruang pertukaran gagasan, inovasi, dan pengetahuan. Melalui forum diskusi, business matching, dan program terkurasi. Dengan pendekatan kolaborasi hexahelix—melibatkan pemerintah, industri, akademisi, komunitas kreatif, media, dan investor. Ekosistem furnitur masa depan Indonesia diarahkan untuk tumbuh berkelanjutan dan relevan dengan cara hidup modern. (Mur)

Previous articleLebih dari Sekadar Flu, Ini Penjelasan Medis tentang Super Flu
Next articleHUAWEI nova 14 Pro Resmi Hadir di Indonesia, Andalkan Kamera Flagship dan Baterai Tahan Seharian