KitaBogor – Pertandingan Lille kontra Freiburg di Europa League bukan tipe laga yang penuh ledakan emosi atau jual beli serangan tanpa henti. Justru sebaliknya. Sejak awal, duel ini berjalan rapat, tenang, dan terasa seperti adu kesabaran. Dua tim sama-sama sadar: satu kesalahan kecil saja bisa jadi penentu.
Freiburg mencoba lebih dulu. Mereka beberapa kali mengirim bola ke sisi sayap, berharap bisa menemukan celah di belakang pertahanan Lille. Tapi serangan mereka sering berhenti di ujung—entah karena pertahanan Lille cukup rapi, atau keputusan terakhir yang kurang pas.
Lille sendiri tidak terburu-buru. Mereka memilih memainkan bola pelan-pelan, membangun serangan dari tengah, lalu melebar. Ada beberapa peluang setengah jadi, tapi belum cukup tajam untuk bikin skor berubah di babak pertama. Permainannya rapi, tapi belum menggigit.
Di babak kedua, tensi mulai naik. Freiburg makin berani menekan, terutama lewat bola mati dan tembakan jarak jauh. Namun Lille tetap disiplin. Jarak antarlini dijaga, ruang dipersempit, dan Freiburg dipaksa mencari solusi yang tidak mudah.
Salah satu pemain yang tampil konsisten adalah Calvin Verdonk. Tanpa banyak aksi mencolok, ia menjalankan tugasnya dengan simpel. Beberapa kali serangan Freiburg terhenti di sisinya. Saat Lille menguasai bola, Verdonk juga tidak gegabah—pilih umpan aman, jaga ritme, dan bantu tim tetap stabil.
Ketika laga terlihat bakal berakhir tanpa gol, momen penentu akhirnya datang di injury time. Tekanan Lille di kotak penalti Freiburg memaksa kesalahan. Wasit pun menunjuk titik putih di menit 90+2.
Olivier Giroud maju sebagai algojo. Tidak banyak gaya. Tendangan dilepas dengan tenang, bola masuk, dan Lille unggul 1–0 di saat yang paling krusial.
Gol itu jadi satu-satunya pembeda di pertandingan yang sepanjang laga terasa seimbang. Freiburg sempat mencoba mengejar di sisa waktu, tapi Lille sudah terlalu rapi untuk dibongkar.
Ini bukan kemenangan yang spektakuler. Tapi justru di laga seperti inilah Lille menunjukkan kekuatannya: sabar, disiplin, dan tahu kapan harus memanfaatkan momen. Di Europa League, itu sering kali sudah lebih dari cukup. (Acil)


