Indonesia–Uni Eropa Perbarui Dialog Lintas Agama dan Budaya untuk Dorong Toleransi dan Kesetaraan

0
4
Indonesia–EU Interfaith and Intercultural Dialogue 2025 Indonesia–Uni Eropa Perbarui Dialog Lintas Agama dan Budaya untuk Dorong Toleransi dan Kesetaraan

KitaBogor – Indonesia dan Uni Eropa kembali menggelar Indonesia–EU Interfaith and Intercultural Dialogue 2025, sebuah forum yang mempertemukan tokoh agama, akademisi, perwakilan masyarakat sipil, dan pembuat kebijakan dari kedua pihak. Kegiatan yang berlangsung pada 27 November hingga 1 Desember 2025 di Jakarta dan Yogyakarta ini. Bertujuan memperkuat kerja sama dalam toleransi, koeksistensi damai, dan pemahaman antarbudaya. Sekaligus menjawab tantangan global seperti ketidakstabilan geopolitik dan isu keberlanjutan.

Dialog ini menandai bergulirnya kembali kerja sama lintas agama yang sempat terhenti sejak kegiatan serupa pada 2012. Pelaksanaannya juga merupakan tindak lanjut dari EU–Indonesia Human Rights Dialogue 2024. Serta sejalan dengan komitmen bersama dalam Partnership and Cooperation Agreement (PCA). Kerangka PCA menegaskan kerja sama jangka panjang di bidang hak asasi manusia, kebebasan beragama atau berkeyakinan, interaksi antarmasyarakat, dan pembangunan berkelanjutan, sekaligus mencerminkan nilai “Unity in Diversity / Bhinneka Tunggal Ika”.

Interfaith and Intercultural Dialogue 2025 memperluas jangkauan kolaborasi melalui pertukaran antara komunitas agama di Eropa dengan keragaman agama dan kepercayaan di Indonesia, mulai dari Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Konfusianisme, hingga kepercayaan adat. Selain diskusi substantif, peserta juga melakukan kunjungan ke berbagai rumah ibadah dan salah satu sekolah Muhammadiyah di Yogyakarta untuk melihat langsung praktik toleransi dan pendidikan multikultural.

Forum tahun ini mengangkat tiga sub-tema utama. Pertama, koeksistensi lintas agama yang damai, termasuk peran pemimpin agama dalam mediasi konflik dan dukungan terhadap kelompok rentan. Kedua, pelestarian lingkungan berbasis nilai agama, seperti konsep khalifah dalam Islam dan prinsip Tri Hita Karana dalam Hindu Bali. Yang menekankan harmoni dengan alam. Ketiga, agama sebagai pendorong kesetaraan gender, menyoroti kontribusi pemimpin perempuan dari berbagai organisasi keagamaan.

Dengan mempertemukan pemangku kepentingan lintas sektor, dialog ini diharapkan menghasilkan rekomendasi konkret. Dan memperkaya hubungan strategis Indonesia dan Uni Eropa, sekaligus merawat keberagaman sebagai kekuatan bersama.

Previous articleGroundbreaking Aston dan Harper Cibinong: Tonggak Baru Pariwisata dan MICE di Bogor