KitaBogor – Setelah 16 tahun mengabdikan diri sebagai guru, Siti Nurma Nugraha kini mendapat amanah memimpin Sekolah Rakyat (SR) 3 Kemang, Kota Bogor. Pengalaman panjangnya di dunia pendidikan menjadi bekal untuk mendampingi siswa dari keluarga prasejahtera memperoleh kesempatan belajar dan mengembangkan potensi.
Siti Nurma merupakan PNS di lingkungan Pemerintah Kota Bogor yang memulai karier sebagai tenaga pendidik pada 2010. Ia sebelumnya mengajar di SMPN 16 Kota Bogor sebelum mendapat penugasan dari Dinas Pendidikan Kota Bogor untuk mengikuti seleksi kepala Sekolah Rakyat.
Penugasan tersebut diberikan atas izin Wali Kota Bogor setelah pemerintah daerah diminta merekomendasikan guru berprestasi untuk mengikuti seleksi.
“Kemudian saya ikut seleksi kepala Sekolah Rakyat, karena Kementerian Sosial saat itu melalui Kemendikdasmen meminta pemerintah daerah untuk merekomendasikan guru-guru yang berprestasi untuk bisa diikutkan dalam seleksi kepala Sekolah Rakyat. Saya ikutlah atas perintah Disdik. Jadi bukan pengajuan sendiri. Atas perintah Disdik saya ikut seleksi, tiba-tiba hasil seleksi Alhamdulillah saya lolos,” ungkap Nurma saat ditemui di SR 3 Kemang, Senin (2/11/2026).
Saat ini, SR 3 Kemang menampung 100 siswa tingkat SMP dan SMA. Sekolah Rakyat merupakan program pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera, terutama kelompok desil 1 dan desil 2.
Matrikulasi Bantu Siswa Beradaptasi
Dalam pelaksanaannya, Sekolah Rakyat menerapkan standar operasional dan kurikulum yang telah ditentukan kementerian. Kegiatan siswa berlangsung terstruktur, dimulai dari bangun pagi sekitar pukul 03.30 hingga 04.00 WIB, bersih-bersih, beribadah, senam, sarapan, hingga mengikuti pembelajaran.
Sebelum menjalani kegiatan belajar secara penuh, siswa juga mengikuti masa pengenalan lingkungan sekolah yang dimulai pada 14 Agustus 2026 dan dilanjutkan dengan program matrikulasi.
Program ini diperlukan karena siswa yang diterima memiliki latar belakang dan usia berbeda. Di tingkat SMP, misalnya, terdapat siswa berusia 13–14 tahun, tetapi ada pula yang berusia 17–18 tahun karena sebelumnya sempat putus sekolah.
Nurma menjelaskan, matrikulasi membantu siswa menyesuaikan diri sekaligus membangun kesiapan mental dan kepercayaan diri.
Selain itu, Sekolah Rakyat menerapkan Kurikulum Multi Exit Multi Entry. Melalui pendekatan ini, potensi dan kebutuhan setiap siswa dipetakan sejak awal agar pengembangan pembelajaran dapat diarahkan sesuai kemampuan masing-masing.
“Jadi memang anak itu dari awal masuk sudah mulai kita diagnosa arahnya ke mana, potensinya apa. Nah, itu yang kita kembangkan,” ujarnya.
Berharap Sekolah Rakyat Berkembang di Bogor
Sekolah Rakyat mengedepankan tiga prinsip utama, yaitu edukasi, rehabilitasi, dan pemberdayaan. Dalam program ini, pemerintah daerah membantu proses penjangkauan calon siswa, sedangkan penyelenggaraan dan standar pendidikan mengikuti ketentuan kementerian.
Nurma menyebut penugasannya sebagai kepala SR 3 merupakan bagian dari penempatan sementara oleh Pemerintah Kota Bogor. Ia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi bekal untuk ikut memajukan pendidikan Sekolah Rakyat di daerahnya. Termasuk sekolah yang sedang dibangun di kawasan Rancamaya.
Ia berharap para siswa dapat tumbuh menjadi generasi yang memiliki kemampuan, kepercayaan diri, dan kesempatan untuk berkontribusi bagi masyarakat.
Bagi Nurma, pendidikan bukan sekadar proses belajar di ruang kelas. Tetapi juga upaya membuka peluang bagi anak-anak untuk membangun masa depan yang lebih baik. (Mur)


