KitaBogor – Pendidikan lingkungan tidak cukup hanya disampaikan melalui teori di dalam kelas. Melalui kegiatan membuat kompos, menanam kangkung, dan mengolah barang bekas menjadi kerajinan, sekitar 500 siswa di empat sekolah di Magetan dan Surabaya diajak memahami pengelolaan sampah melalui pengalaman langsung.
Program tersebut dijalankan oleh Tunas STEM Indonesia, inisiatif pendidikan yang didirikan Rocco Joseph Tjuanta, siswa Jakarta Intercultural School. Sepanjang Oktober 2026, Rocco mengunjungi empat sekolah untuk memperkenalkan pemilahan sampah sekaligus mendorong kebiasaan menjaga lingkungan sejak dini.
Kunjungan berlangsung di SDN Cileng 3 pada 7 Oktober, SDN Genilangit 1 pada 8 Oktober, SDN Plangkrongan 4 pada 9 Oktober, dan SDN Ujung IX Surabaya pada 20 Oktober 2026.
Dalam kegiatan tersebut, para siswa belajar mengenali jenis-jenis sampah dan memahami pentingnya memilah material berdasarkan kategorinya. Materi disampaikan dengan menghubungkan persoalan sampah dengan kehidupan sehari-hari, termasuk kebiasaan membuang sampah pada tempatnya dan memisahkan bahan yang masih dapat didaur ulang.
Berawal dari eksperimen sains
Perjalanan Rocco dalam mengembangkan Tunas STEM Indonesia bermula dari kegiatan mengajar di SDN Cileng 3, Magetan, pada 6 Oktober 2025. Saat itu, ia memperkenalkan sains melalui sejumlah eksperimen sederhana.
Pengalaman tersebut membuatnya melihat pentingnya memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mencoba, bertanya, dan memahami konsep sains melalui praktik langsung.
Setelah kunjungan pertama, kegiatan pembelajaran dilanjutkan secara daring. Rocco juga mengirimkan bahan-bahan eksperimen ke sekolah agar siswa tetap memiliki kesempatan belajar secara praktis di luar waktu kunjungan.
Dalam perkembangannya, materi pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan sekolah. Ketika pengelolaan sampah menjadi perhatian di Magetan, Rocco memperluas kegiatan dengan memasukkan pendidikan lingkungan dan keberlanjutan sebagai bagian dari pembelajaran.
Pendekatan tersebut membuat siswa tidak hanya mengenal persoalan sampah, tetapi juga mempelajari langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mengatasinya.
Dari memilah sampah menjadi kegiatan nyata
Pembelajaran kemudian diteruskan oleh sekolah melalui sejumlah aktivitas. Salah satunya adalah membuat kompos dari sampah organik yang selanjutnya digunakan untuk menanam kangkung.
Kegiatan ini memperlihatkan hubungan antara pengelolaan sampah dan pemanfaatan kembali material organik. Siswa dapat melihat bagaimana sisa bahan organik diolah menjadi kompos, kemudian dimanfaatkan untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
Selain menanam, siswa juga mengikuti kompetisi membuat kerajinan dari bahan daur ulang. Barang-barang bekas diolah menjadi benda yang memiliki nilai guna melalui kreativitas masing-masing peserta.
Kegiatan tersebut memberi kesempatan kepada siswa untuk menerapkan pemahaman tentang pemanfaatan material sekaligus melihat bahwa tidak semua barang yang dibuang harus berakhir sebagai sampah.
Untuk mendukung keberlanjutan pembelajaran, Rocco turut mengembangkan modul pengelolaan sampah yang dapat digunakan sekolah setelah kunjungannya selesai. Modul ini membantu guru melanjutkan materi dari pengenalan jenis sampah hingga penerapan kebiasaan memilah dan memanfaatkan kembali material.
Peran guru menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Melalui kegiatan yang dilakukan secara berulang, materi lingkungan dapat terus diperkuat dan diterapkan dalam aktivitas sehari-hari di sekolah.
Kembangkan jangkauan pembelajaran
Tunas STEM Indonesia juga mulai mengembangkan situs web yang berfokus pada eksperimen sains dan keberlanjutan lingkungan. Platform tersebut direncanakan menjalani uji coba di empat sekolah mitra sebelum diperluas kepada masyarakat.
Masukan dari sekolah akan digunakan untuk menyempurnakan materi dan pengalaman belajar di dalam situs. Rocco juga berharap dapat melibatkan lebih banyak siswa dalam kegiatan berbagi pengetahuan dan mengajar.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Tunas STEM Indonesia berupaya menghubungkan pembelajaran sains dengan persoalan yang dekat dengan kehidupan anak-anak. Kolaborasi dengan sekolah dan guru diharapkan dapat menjaga agar kegiatan belajar tidak berhenti setelah kunjungan selesai.
Dari eksperimen sederhana hingga kegiatan membuat kompos dan kerajinan daur ulang, siswa mendapat kesempatan untuk memahami bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai melalui tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten. (Hen)


