KitaBogor – Semangat Sumpah Pemuda tidak cukup hanya dikenang melalui pembacaan ikrar setiap tahun. Nilai persatuan dan kebangsaan perlu terus dihidupkan melalui karya, dialog, dan kontribusi nyata. Semangat inilah yang diangkat Jendela Puspita bersama Komunitas Pegiat Literasi dan Budaya Nusantara dalam kegiatan Malam Puncak Gelora Sumpah Pemuda, Rabu (28/10/2026).
Digelar secara daring melalui Zoom Meeting, kegiatan bertema “Membangun Bangsa dan Menjaga Gelora Sumpah Pemuda dengan Puisi” tersebut menjadi ruang pertemuan para pegiat literasi untuk merayakan persatuan melalui sastra, diskusi, dan pertukaran gagasan.
Salah satu sesi yang menarik perhatian adalah diskusi dan tanya jawab yang dipandu Erni Wardhani, Ketua Komunitas Penulis Pengajar Jawa Barat. Para peserta menyampaikan pandangan mengenai relevansi Sumpah Pemuda dalam kehidupan masyarakat saat ini, termasuk tantangan menjaga persatuan di tengah perkembangan era digital.
Didik, salah satu peserta asal Bangkalan, Jawa Timur, mengajak generasi muda untuk mengambil peran dan membangun kolaborasi nyata dalam menjaga kehidupan berbangsa.
“Satu pesan utama dalam memaknai Sumpah Pemuda adalah ambillah peran, bergeraklah dalam kolaborasi nyata, dan jagalah kedamaian bangsa di era digital ini. Sebab, masa depan Indonesia berada di pundak kita semua,” ujarnya.
Pesan serupa disampaikan Edi Suwito, peserta asal Lingga, Kepulauan Riau. Ia mengingatkan generasi muda agar tetap menjaga jati diri dan berupaya menjadi bagian dari generasi yang membawa harapan bagi bangsa.
Diskusi tersebut memperlihatkan bahwa semangat persatuan dapat terus dirawat melalui dialog, kepedulian, dan kerja sama. Nilai-nilai Sumpah Pemuda pun tidak hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Suasana kebangsaan semakin terasa melalui pembacaan Ikrar Sumpah Pemuda yang dipimpin Siska Puspita Dewi, Pembina Sanggar Literasi Jendela Puspita. Momen ini menjadi pengingat bahwa persatuan dan tanggung jawab terhadap bangsa merupakan nilai yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.
Selain diskusi dan pembacaan ikrar, kegiatan tersebut dimanfaatkan untuk memperkenalkan dua program kelas menulis yang tengah dibuka Jendela Puspita, yakni antologi puisi Gelora Sumpah Pemuda dan kumpulan cerpen Pahlawan Sejati.
Kedua program ini memberikan kesempatan kepada para penulis untuk menuangkan gagasan, pengalaman, serta nilai kehidupan melalui karya sastra. Melalui kegiatan kepenulisan dan penerbitan, Jendela Puspita berupaya memperluas ruang partisipasi masyarakat dalam gerakan literasi.
Pada kesempatan yang sama, diumumkan tiga pembaca puisi terbaik dalam Parade Penyair Jendela Puspita bertajuk “Mengusap Air Mata Ibu Pertiwi”. Mereka adalah Suparno Ghopar dari Kutai Kartanegara, Dyah Mintarti dari Bogor, dan Edi Suwito dari Lingga.
Apresiasi tersebut diberikan sebagai bentuk penghargaan atas kreativitas dan penampilan para peserta dalam menyampaikan pesan melalui puisi. Pengumuman ini sekaligus menjadi dorongan bagi para pegiat sastra untuk terus berkarya dan menghadirkan gagasan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Pembina Sanggar Literasi Jendela Puspita, Siska Puspita Dewi, mengatakan. Bahwa literasi bukan hanya berkaitan dengan aktivitas membaca dan menulis. Tetapi juga menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan, menumbuhkan kreativitas, dan membangun kepedulian.
“Saya berharap Jendela Puspita dapat menjadi wadah bagi para pegiat literasi dan budaya untuk saling terhubung, bertukar gagasan. Serta menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa. Bagi saya, literasi bukan hanya tentang menulis buku. Tetapi juga tentang bagaimana karya dapat menumbuhkan kepedulian dan memberikan dampak positif,” ungkapnya.
Melalui berbagai kegiatan kepenulisan, penerbitan buku, diskusi, dan apresiasi sastra, Jendela Puspita berupaya membuka ruang kolaborasi bagi masyarakat dari berbagai latar belakang.
Semangat tersebut sejalan dengan tagline yang diusung Jendela Puspita: “Dari Kata, Tumbuh Cinta. Dari Cinta, Lahir Karya. Melalui Karya, Kita Membangun Bangsa.” Sebuah pesan bahwa karya sastra dapat menjadi salah satu jalan untuk merawat persatuan dan menumbuhkan kepedulian terhadap Indonesia. (Mur)


