Saturday, 24 October 2026
Home Lifestyle MPDI Luncurkan FOSDI dan Serukan Resolusi Jihad Melawan Penjajahan Modern

MPDI Luncurkan FOSDI dan Serukan Resolusi Jihad Melawan Penjajahan Modern

0
4
MPDI Luncurkan FOSDI dan Serukan Resolusi Jihad Melawan Penjajahan Modern

KitaBogor – Majelis Pesantren Dakwah Indonesia (MPDI) meluncurkan Forum Silaturahim Santri Dakwah Indonesia (FOSDI) dalam rangkaian Semarak Hari Santri Nasional 2026 di Pondok Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat, Kamis (22/10/2026). Pada momentum yang sama, MPDI menyerukan Resolusi Jihad untuk memperkuat kemandirian umat, menegakkan keadilan, dan menjaga kedaulatan bangsa dari berbagai bentuk penjajahan modern.

Mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri, Menuju Indonesia Emas”, kegiatan ini menjadi momentum untuk memperluas jejaring santri sekaligus mendorong peran pesantren dalam menjawab tantangan zaman.

Ketua Umum MPDI, KH Ayi Abdul Rosyid, Lc., M.Ag., menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan amanah yang harus dijaga dan diisi melalui perjuangan berkelanjutan. Tantangan masa kini, menurutnya, tidak hanya berupa ancaman fisik, tetapi juga ketergantungan ekonomi, penguasaan teknologi, manipulasi informasi, kemerosotan moral, dan ketidakadilan.

Melalui Resolusi Jihad, MPDI mengajak keluarga besar pesantren memperluas kontribusi dalam bidang pendidikan, dakwah, pemberdayaan ekonomi, penguasaan teknologi, serta pengabdian kepada masyarakat.

FOSDI Perkuat Jejaring Santri

Peluncuran FOSDI menjadi salah satu agenda utama dalam peringatan Hari Santri Nasional yang digelar MPDI. Forum ini diharapkan menjadi ruang silaturahim dan kolaborasi bagi santri yang memiliki perhatian terhadap dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.

Melalui FOSDI, santri dari berbagai lingkungan pesantren diharapkan dapat saling bertukar pengalaman, memperluas jaringan, serta mengembangkan inisiatif yang bermanfaat bagi umat. Forum ini juga diarahkan untuk mendukung penguatan kapasitas intelektual, kepemimpinan, literasi digital, dan penguasaan teknologi.

MPDI memandang penguatan jejaring sebagai langkah strategis agar gerakan dakwah lebih terhubung dan mampu merespons persoalan masyarakat. Dengan demikian, kontribusi santri diharapkan tidak terbatas di lingkungan pesantren, tetapi juga dapat dirasakan dalam kehidupan sosial yang lebih luas.

Delapan Bidang Resolusi Jihad MPDI

Dalam pernyataan sikap bertajuk “Resolusi Jihad: Melawan Penjajahan Modern, Menegakkan Kemerdekaan Sejati, dan Membangun Kedaulatan Umat”, MPDI menetapkan delapan bidang perjuangan.

Pertama, melawan kebodohan dan kemerosotan moral melalui penguatan pendidikan Al-Qur’an, akidah, akhlak, dan ilmu pengetahuan.

Kedua, mengatasi ketergantungan ekonomi melalui koperasi pesantren, penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pemberdayaan santri dan alumni, serta pengembangan usaha produktif.

Ketiga, menghadapi penjajahan pemikiran dan informasi dengan meningkatkan literasi digital, memperkuat media dakwah, menguasai teknologi, serta melawan hoaks dan propaganda yang merusak persatuan.

Keempat, menegakkan keadilan dan melawan korupsi dengan membangun budaya amanah, transparansi, integritas, dan tanggung jawab.

Kelima, menjaga kedaulatan bangsa dan sumber daya alam melalui penguatan kapasitas nasional, pengelolaan sumber daya yang adil, diplomasi, dan penegakan hukum.

Keenam, membangun kemandirian pesantren agar semakin kuat sebagai pusat pendidikan, dakwah, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan ekonomi umat.

Ketujuh, menguatkan persatuan umat dan bangsa melalui sinergi ulama, pesantren, organisasi Islam, pemerintah, serta berbagai elemen masyarakat.

Kedelapan, menjalankan perjuangan melalui ilmu, dakwah, keteladanan, dan amal nyata. Termasuk pendidikan, pemberdayaan ekonomi, penguasaan teknologi, advokasi, serta perjuangan konstitusional yang damai dan bertanggung jawab.

MPDI menegaskan bahwa jihad dalam resolusi tersebut dimaknai sebagai upaya membangun kekuatan umat. Menegakkan keadilan, dan menjaga kedaulatan bangsa melalui cara yang sah dan bermartabat. MPDI juga menolak penggunaan istilah jihad untuk membenarkan kekerasan terhadap warga sipil maupun tindakan teror.

Pesantren sebagai Pusat Kebangkitan Peradaban

MPDI menempatkan pesantren sebagai salah satu kekuatan penting dalam pembangunan peradaban. Pesantren diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya memiliki kedalaman ilmu agama. Tetapi juga adaptif terhadap perkembangan teknologi, mandiri secara ekonomi, berintegritas, dan mampu memberikan solusi bagi masyarakat.

Dalam siaran persnya, MPDI juga mengaitkan semangat perubahan tersebut dengan Surah Ar-Ra’d ayat 11. Yang mengingatkan pentingnya ikhtiar dan perubahan yang dimulai dari diri sendiri.

MPDI mengajak pimpinan pesantren, ustaz dan ustazah, santri, alumni, wali santri. Serta masyarakat luas untuk memperkuat pendidikan, mengembangkan usaha produktif, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, menjaga persatuan, dan menjalankan program pemberdayaan secara terukur.

Rangkaian Semarak Hari Santri Nasional 2026 turut diisi apel peringatan Hari Santri, final perlombaan, dan pemberian penghargaan kepada peserta berprestasi. Kegiatan tersebut diarahkan untuk mempererat ukhuwah, mengembangkan potensi santri, dan memperkuat kolaborasi antarpesantren.

Mendorong Kemerdekaan yang Bermartabat

MPDI memandang kemerdekaan sejati tidak hanya berarti terbebas dari penjajahan fisik. Tetapi juga terbebas dari kebodohan, kemiskinan struktural, ketergantungan yang melemahkan, kerusakan moral, dan ketidakadilan.

Melalui peluncuran FOSDI dan peneguhan Resolusi Jihad. MPDI mengajak keluarga besar pesantren mengubah semangat silaturahim menjadi kolaborasi. Dan menerjemahkan semangat perjuangan ke dalam program nyata yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Jihad kita adalah membangun kekuatan umat. Perjuangan kita adalah menegakkan keadilan. Cita-cita kita adalah kemerdekaan yang bermartabat. Pengabdian kita adalah untuk Allah, umat, dan Indonesia,” demikian seruan MPDI dalam siaran persnya.

Melalui agenda tersebut, MPDI berharap santri dan pesantren semakin berperan. Dalam membangun sumber daya manusia, memperkuat kemandirian ekonomi umat, menjaga persatuan, dan menyiapkan masa depan Indonesia. (Hen)

Previous articleHaunted Feast Menu Hadir di Dago, Sajikan Kreasi Kuliner Bertema Halloween
Next articlePETRONAS Syntium Gelar Nobar F1 di Jakarta, Hadirkan Simulator Balap dan Mobil Premium