KitaBogor – Puisi menjadi ruang pertemuan lintas generasi dalam Parade Penyair yang diselenggarakan Jendela Puspita secara daring melalui Zoom pada 21 Oktober 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Gelora Sumpah Pemuda: Dengan Cinta Membangun Bangsa.
Dipandu Erni Wardhani, kegiatan tersebut menghadirkan 11 penyair dari berbagai daerah di Indonesia. Para peserta membacakan karya masing-masing sekaligus merayakan kecintaan terhadap sastra dan menyambut Hari Sumpah Pemuda 2026.
Mengusung semangat lintas generasi, parade ini mempertemukan penyair dari Gen Alpha, Gen Z, generasi milenial, hingga Gen X. Perbedaan usia dan pengalaman menjadi warna tersendiri dalam kegiatan yang menjadikan puisi sebagai medium untuk menyampaikan gagasan, perasaan, dan harapan tentang Indonesia.
Peserta yang mengikuti acara secara daring juga berasal dari berbagai wilayah, dari Sabang hingga Merauke. Pertemuan virtual ini memperlihatkan bagaimana sastra dapat membuka ruang apresiasi tanpa dibatasi jarak geografis.
11 penyair dari berbagai daerah tampil membacakan puisi
Sebanyak 11 penyair ikut meramaikan Parade Penyair Jendela Puspita. Mereka berasal dari sejumlah kota dan kabupaten di Indonesia, dengan latar pengalaman serta sudut pandang yang beragam.
Berikut daftar penyair yang tampil:
- Siska Puspita Dewi – Kota Bekasi
- Aleeya Salma Anggraenila – Jakarta
- Ai Lundeng – Purwakarta
- Nurul Qodriyah – Mojokerto
- Hj. Lili Priyani – Kabupaten Bekasi
- Muhammad Iqbal – Aceh
- Eva Ngelis – Kendari
- Titin Supriatin – Majalengka
- Muhammad Syafi’i – Malang
- Tia Agustina – Subang
- Erin Paramyta Mei A – Banggai
Keberagaman para penyair tersebut memperlihatkan bahwa puisi dapat menjadi ruang ekspresi bersama yang melampaui perbedaan usia maupun wilayah. Setiap karya menghadirkan pengalaman dan pemikiran tersendiri, tetapi bertemu dalam semangat mengapresiasi sastra Indonesia.
Parade penyair berlanjut ke antologi puisi
Jendela Puspita tidak berhenti pada kegiatan pembacaan puisi. Komunitas ini juga menyiapkan program menulis bersama untuk menghasilkan antologi bertajuk Gelora Sumpah Pemuda: Denyut Cinta Membangun Bangsa.
Antologi tersebut menjadi wadah bagi penulis dan penyair untuk menuangkan gagasan, pengalaman, serta kecintaan terhadap Indonesia melalui puisi. Kumpulan karya ini diharapkan dapat merekam beragam suara dan harapan tentang persatuan serta kehidupan berbangsa.
Melalui program tersebut, Jendela Puspita membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin berpartisipasi dalam kegiatan literasi, baik sebagai penikmat maupun pencipta karya sastra.
Jendela Puspita membuka kesempatan bagi penulis
Masyarakat yang memiliki puisi bertema Indonesia, persatuan, perjuangan, atau harapan bagi generasi mendatang dapat mencari informasi mengenai kesempatan bergabung dalam antologi Gelora Sumpah Pemuda: Denyut Cinta Membangun Bangsa.
Informasi lebih lanjut dapat diperoleh melalui WhatsApp di 0857-7014-4365.
Melalui parade penyair dan program antologi ini, Jendela Puspita mengajak masyarakat merawat semangat Sumpah Pemuda melalui karya sastra. Puisi diharapkan menjadi salah satu cara untuk menyampaikan gagasan, mempertemukan perbedaan, dan menjaga semangat kebangsaan. (Mur)


