Wednesday, 30 September 2026
Home Lokal Sarasehan Kesaktian Pancasila di Bogor, Menguji Jarak antara Nilai dan Realitas

Sarasehan Kesaktian Pancasila di Bogor, Menguji Jarak antara Nilai dan Realitas

0
10
Sarasehan Kesaktian Pancasila di Bogor, Menguji Jarak antara Nilai dan Realitas

KitaBogor – Peringatan Hari Kesaktian Pancasila tidak hanya dapat dimaknai melalui seremoni dan pengulangan slogan. Momentum tersebut juga dapat menjadi ruang untuk melihat kembali bagaimana nilai-nilai Pancasila hadir dan dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat.

Gagasan itu akan dibawa dalam Sarasehan Kesaktian Pancasila bertema “Menguji Kesaktian Pancasila: Antara Idealisme, Teori, dan Realita Kehidupan Berbangsa”, yang dijadwalkan berlangsung di Balong Kabayan, Bogor Selatan, Sabtu, 3 Oktober 2026.

Forum ini dirancang sebagai ruang dialog untuk mempertemukan pemikiran tentang Pancasila dengan berbagai realitas sosial yang dihadapi masyarakat. Persoalan kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial menjadi sejumlah isu yang akan dibicarakan.

Pembina Daya Putra Bangsa, Heri Cokro, mengatakan makna Kesaktian Pancasila perlu dibicarakan lebih jauh agar tidak berhenti sebagai simbol atau peringatan tahunan.

“Kesaktian Pancasila jangan hanya kita maknai sebagai peristiwa sejarah atau seremoni tahunan. Yang penting adalah menguji apakah nilai-nilai Pancasila benar-benar hidup dalam perilaku kita sebagai warga negara. Karena itu, kita ingin mempertemukan idealisme Pancasila dengan realitas kehidupan sehari-hari,” ujar Heri.

Menurut Heri, pembicaraan mengenai nilai-nilai Pancasila perlu dikaitkan dengan kehidupan nyata. Ketika masyarakat berbicara tentang kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana nilai tersebut diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita ingin bertanya secara terbuka: ketika berbicara tentang kemanusiaan, persatuan, demokrasi dan keadilan sosial, seperti apa wujudnya dalam kehidupan nyata? Pancasila jangan berhenti sebagai hafalan, simbol atau jargon, tetapi menjadi nilai yang benar-benar dipraktikkan,” katanya.

Ia menilai perkembangan teknologi informasi, media sosial, perubahan sosial, politik identitas, serta beragam kepentingan di masyarakat membuat pembicaraan mengenai aktualisasi Pancasila terus relevan.

Karena itu, menurut Heri, Pancasila perlu terus dibicarakan lintas generasi melalui ruang dialog yang terbuka.

“Pancasila harus terus dibicarakan, bukan karena kita meragukannya, tetapi karena kita ingin memastikan nilai-nilainya tetap mampu menjawab persoalan zaman. Generasi muda perlu memiliki ruang untuk bertanya, berdialog dan menguji pemahaman tentang Pancasila berdasarkan realitas yang mereka hadapi,” tuturnya.

Ketua Panitia, Tri Ajeng, mengatakan sarasehan tersebut disiapkan sebagai ruang perjumpaan berbagai perspektif mengenai Pancasila.

“Kami ingin peringatan Kesaktian Pancasila tidak hanya menjadi kegiatan seremonial. Kami ingin menghadirkan ruang bagi peserta untuk berdialog, bertanya, berbeda pandangan, dan bersama-sama mencari makna Pancasila dalam kehidupan nyata,” kata Tri Ajeng.

Tidak hanya diskusi, rangkaian acara juga akan memadukan unsur seni dan budaya. Pendekatan tersebut dihadirkan untuk memperlihatkan bahwa pembicaraan tentang Pancasila tidak hanya berada di ruang teoritis, tetapi juga dapat dihayati melalui kebudayaan dan kehidupan masyarakat.

Sejumlah kegiatan dijadwalkan mengisi sarasehan, di antaranya Teatrikalisasi Pancasila oleh Teater Bocah Putra Bangsa, diskusi sesi pertama bersama Dr. Heri Santoso dari Filsafat UGM, Sadono Sriharjo, ST dari BPIP, dan Ahmad Sofwan Ansori dari UNPAK Bogor, dengan Heri Cokro sebagai moderator.

Rangkaian kegiatan juga mencakup sesi hiburan bersama KPJ Bogor, tanya jawab, tanggapan pakar, penyusunan kesimpulan dan resolusi, hingga ramah tamah.

Tri Ajeng berharap peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai Pancasila. Tetapi juga memiliki ruang untuk melakukan refleksi terhadap praktik nilai-nilai tersebut dalam kehidupan masing-masing.

“Kami berharap peserta tidak pulang hanya membawa pemahaman tentang apa itu Pancasila. Tetapi juga membawa pertanyaan kepada dirinya sendiri: sudah sejauh mana nilai Pancasila kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Sarasehan ini pada akhirnya menempatkan hubungan antara idealisme Pancasila dan realitas kehidupan sebagai bahan percakapan. Kritik, pertanyaan, dan perbedaan pandangan diharapkan dapat menjadi bagian dari proses memahami sekaligus mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila.

Bagi penyelenggara, makna Kesaktian Pancasila tidak hanya terletak pada seberapa sering nilai-nilainya diucapkan, tetapi juga pada bagaimana nilai tersebut diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial.

Melalui sarasehan tersebut, Pancasila diharapkan tidak berhenti sebagai gagasan yang dibicarakan, tetapi menjadi nilai yang terus diperbincangkan, diuji dalam realitas, dan diupayakan penerapannya dalam kehidupan masyarakat. (Ckr03/red)

Previous articleMuhammad Irfan dan Santhika Devi Terpilih sebagai Putra Putri Pariwisata Nusantara 2026
Next article60 Seconds to Tokyo Hadir di Aston Sentul, Bawa Sensasi Japanese Street Food Lebih Dekat