Sunday, 27 September 2026
Home Lokal Balai Kota Bogor Punya Waste Station Berbahan Daur Ulang, Jadi Ruang Edukasi...

Balai Kota Bogor Punya Waste Station Berbahan Daur Ulang, Jadi Ruang Edukasi Pengelolaan Sampah

0
2
Balai Kota Bogor Punya Waste Station Berbahan Daur Ulang, Jadi Ruang Edukasi Pengelolaan Sampah

KitaBogor – Pengelolaan sampah dari sumbernya terus didorong Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor. Salah satunya melalui kehadiran Waste Station di Balai Kota Bogor yang tidak hanya menjadi fasilitas pengumpulan sampah, tetapi juga ruang edukasi bagi masyarakat.

Fasilitas tersebut diluncurkan pada Sabtu (26/9/2026) melalui kolaborasi Pemkot Bogor bersama Rekosistem, Yayasan Materia, Ford Foundation, Parongpong RAWHAUS, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian Lingkungan Hidup.

Balai Kota Bogor disebut menjadi kantor pemerintahan sekaligus kantor kepala daerah pertama di Indonesia yang memiliki fasilitas Waste Station dengan konstruksi berbahan material daur ulang sepenuhnya.

Kehadiran fasilitas ini menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pengelolaan sampah sekaligus mendorong penyelesaian sampah sejak dari sumbernya.

Berawal dari Pertemuan Pemkot Bogor dan Rekosistem

Gagasan Waste Station di Balai Kota Bogor berawal dari pertemuan Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim dengan CEO dan Co-Founder Rekosistem Ernest Christian Layman pada tahun lalu.

Dari pertemuan tersebut, Dedie kemudian mengajak sejumlah penggiat lingkungan di Kota Bogor untuk mengunjungi Rekosistem di Bogor Selatan. Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung bagaimana ekosistem pengelolaan sampah dapat dibangun.

Kolaborasi kemudian berkembang hingga menghasilkan fasilitas Waste Station di lingkungan Balai Kota Bogor.

Menariknya, fasilitas tersebut dibangun menggunakan material konstruksi berbahan daur ulang sampah dan proses pembangunannya dapat diselesaikan dalam waktu sekitar enam jam.

Dedie mengatakan, Waste Station menjadi bagian dari kebijakan pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir yang terus dikembangkan Pemkot Bogor.

“Dengan adanya Waste Station, akses masyarakat menjadi lebih mudah. Tujuannya agar masyarakat lebih gampang, karena di sini mobilitasnya sangat tinggi. Banyak masyarakat yang beraktivitas di sekitar Balai Kota,” kata Dedie.

Menurutnya, masyarakat yang beraktivitas di kawasan tersebut dapat membawa sampah yang dihasilkan, seperti botol minuman, untuk diserahkan ke Waste Station.

Membangun Kebiasaan Memilah Sampah

Selain menyediakan tempat untuk mengelola sampah, fasilitas tersebut juga dirancang untuk mendorong kebiasaan masyarakat memilah sampah.

Pemkot Bogor juga mendorong sistem pemberian reward bagi masyarakat yang menyetorkan sampah. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membuat kegiatan memilah sampah menjadi kebiasaan sekaligus memberikan manfaat ekonomi.

Dedie mengatakan, pengelolaan sampah di Balai Kota juga diharapkan dapat menjadi contoh bagi perkantoran lainnya.

“Jadi memang ini yang kita inginkan, sampah itu betul-betul terkelola dari hulu ke hilir. Kita ingin sampah yang ada di perkantoran selesai di perkantoran,” ujarnya.

Sampah yang sudah dipilah nantinya dapat masuk ke Waste Station, diolah menjadi sesuatu yang memiliki nilai manfaat ekonomi, maupun diarahkan ke fasilitas pengolahan lainnya.

Langkah tersebut menjadi bagian dari kebijakan pengelolaan sampah yang lebih besar di Kota Bogor, termasuk rencana pembangunan Waste to Energy Plant atau Pengolahan Sampah Menjadi Energi (PSEL).

“Kalau Waste to Energy Plant, kita sudah pastikan Kota Bogor akan memiliki dan saat ini dalam proses pembangunan. Dibangun dalam waktu dua tahun ke depan. Jadi ini bagian dari satu proses besar kebijakan tentang pengelolaan sampah dari hulu ke hilir di Kota Bogor,” jelas Dedie.

Sampah Diubah Menjadi Material Konstruksi

CEO Parongpong RAW Lab, Rendy Aditya Wachid, menjelaskan bahwa Waste Station di Balai Kota Bogor menggunakan material bernama oriplast yang berasal dari sampah di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS).

Material tersebut menjadi contoh bahwa sampah yang selama ini dianggap tidak dapat dimanfaatkan masih dapat diproses menjadi material baru.

“Waste Station ini menjadi contoh bahwa sampah yang tadinya tidak bisa diapakan ternyata bisa diolah menjadi material baru dengan kekuatan 15 ton per meter persegi. Fungsinya sama seperti kayu, namun tidak ada satu batang bahkan satu ranting pun kayu yang ditebang untuk membuat material ini,” kata Rendy.

Menurutnya, material tersebut diproduksi 100 persen di Indonesia dan proses pengolahannya tidak menggunakan pembakaran.

“Melalui ini kita mengedukasi bahwa tidak ada yang namanya sampah, yang ada hanyalah material yang belum direvitalisasi,” ujarnya.

Ia berharap keberadaan Waste Station dapat memperlihatkan kepada masyarakat bahwa pengelolaan sampah dapat menghasilkan material yang memiliki fungsi sekaligus nilai ekonomi.

Sampah Bisa Ditukar Menjadi Saldo

Masyarakat yang ingin memanfaatkan layanan Waste Station dapat membawa sampah yang telah dikumpulkan untuk dikonversi menjadi uang atau saldo.

Saldo tersebut dapat diterima melalui dompet digital maupun rekening bank menggunakan aplikasi Rekosistem.

Dengan konsep tersebut, Waste Station tidak hanya menjadi titik pengumpulan sampah. Tetapi juga mempertemukan aspek lingkungan dengan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Kehadiran fasilitas di Balai Kota Bogor diharapkan menjadi bagian dari perubahan kebiasaan masyarakat dalam melihat sampah, sekaligus memperkuat pengelolaan sampah dari sumber sebelum masuk ke tahap pengolahan berikutnya. (Mur)

Previous articleGandeng Keboen Sastra, HMPV IPB Gelar SWAKARYA 2026 Dorong Ketahanan Pangan di Bogor
Next articleFestival Durian Bogor di Sentul, Dorong Durian Lokal Tembus Pasar Global