KitaBogor – Sebanyak 500 perempuan memeriahkan pergelaran Tari Keroncong Nusantara di kawasan bersejarah Kota Tua Jakarta, Selasa (15/9/2026).
Kegiatan yang digelar Lembaga Irama Nasional Indonesia (LINI) tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan keroncong melalui perpaduan musik dan tari sekaligus mengajak masyarakat semakin dekat dengan salah satu kekayaan budaya Indonesia.
Ratusan peserta tampil bersama membawakan Tari Keroncong Nusantara di ruang publik. Gerakan tari yang dipadukan dengan irama keroncong membuat musik tradisional tersebut hadir dalam bentuk yang lebih interaktif dan mudah diikuti masyarakat.
Ketua LINI Rudy Octave mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya untuk menghidupkan kembali keroncong agar tidak hanya dikenal sebagai musik yang didengarkan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari aktivitas masyarakat.
Tari Keroncong Nusantara menggunakan karya musik berjudul “Irama Senja (Tari Keroncong Nusantara)” yang diciptakan Rudy Octave. Sementara gerakan tari dikembangkan bersama para seniman dari Asosiasi Seniman Tari Indonesia (ASETI), yakni Gita Novia Sofyan, Agustina Rochyanti, Aty Widyawaty, Atien Kisam, dan Wahyuni Hazierda Dauly.
Ketua ASETI Agustina Rochyanti menilai perpaduan musik dan tari membuka ruang yang lebih luas bagi masyarakat untuk mengenal keroncong.
“Keroncong bukan lagi irama yang hanya bisa didengar dan menjadi latar, tetapi kini dapat ditarikan, dirayakan, dan menjadi bagian dari keseharian masyarakat.”
Suasana semakin semarak ketika diva keroncong Sundari Soekotjo hadir dan secara langsung menyanyikan lagu Tari Keroncong Nusantara untuk mengiringi penampilan massal tersebut.
Sundari mengapresiasi antusiasme masyarakat yang ikut terlibat dalam kegiatan tersebut.
“Acara hari ini luar biasa. Saya senang melihat antusiasme masyarakat terhadap seni dan budaya bangsa, khususnya musik keroncong. Mudah-mudahan semangat seperti ini terus berkembang sehingga keroncong semakin dikenal dan dilestarikan generasi muda.”
Selain Sundari Soekotjo, Candra Darusman, Pembina Lembaga Irama Nasional Indonesia, turut hadir memberikan dukungan.
Ia menilai keterlibatan ratusan orang dalam kegiatan tersebut menjadi energi positif bagi upaya menghidupkan seni tradisi Indonesia.
“Saya senang dan bangga bisa hadir di acara luar biasa ini. Mari kita sama-sama menghargai seni tradisi budaya Indonesia. Hari ini, lebih dari 500 orang berkumpul dan menari dalam irama keroncong. Ini menjadi semangat yang luar biasa untuk terus menghidupkan keroncong.”
Dorong Keroncong Semakin Dikenal
Melalui kegiatan ini, LINI mendorong keroncong agar semakin dekat dengan berbagai lapisan masyarakat, termasuk generasi muda.
Rudy Octave menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, komunitas budaya, komunitas tari, komunitas lansia, hingga pelajar SMA dan SMK.
“Dibutuhkan kolaborasi mulai dari pemerintah, komunitas budaya, komunitas tari, komunitas lansia, hingga generasi muda. Seperti para pelajar SMA dan SMK, untuk memastikan irama keroncong terus bergema.”
Kegiatan Tari Keroncong Nusantara juga melibatkan berbagai komunitas dan institusi pendidikan. Pesertanya datang dari beragam latar belakang, mulai dari komunitas seni dan tari, kelompok lansia, komunitas penyintas kanker, sekolah luar biasa (SLB), hingga pelajar SMA dan SMK.
Kegiatan tersebut mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan, Dana Indonesiana, LPDP, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, serta sejumlah perangkat daerah terkait.
Bagi LINI, Kota Tua Jakarta menjadi ruang yang tepat untuk mempertemukan sejarah, seni, dan masyarakat. Dari kawasan bersejarah tersebut, semangat untuk mengembangkan keroncong diharapkan terus bergerak lebih luas hingga ke tingkat global.
Tari Keroncong Nusantara pun tidak hanya menjadi pertunjukan, tetapi juga menjadi cara baru untuk mengajak masyarakat mengenal, menikmati, dan ikut merawat musik yang menjadi bagian dari perjalanan budaya Indonesia. (Hen)


