Thursday, 27 August 2026
Home Lifestyle “Meradjoet Sendja” Hidupkan Gagasan Pendiri Bangsa di Panggung, Tuai Apresiasi Penonton

“Meradjoet Sendja” Hidupkan Gagasan Pendiri Bangsa di Panggung, Tuai Apresiasi Penonton

0
2
“Meradjoet Sendja” Hidupkan Gagasan Pendiri Bangsa di Panggung, Tuai Apresiasi Penonton

KitaBogor – Pertunjukan orkestra kebangsaan “Meradjoet Sendja — Persembahan Cinta Untuk Republik” sukses digelar di Gedung Kesenian Jakarta, Rabu (26/8/2026). Pertunjukan yang memadukan musik, seni peran, dan narasi sejarah tersebut mendapat apresiasi karena mampu menghadirkan kembali semangat serta gagasan para pendiri bangsa dalam kemasan pertunjukan yang emosional dan reflektif.

Diproduseri sekaligus disutradarai Olivia Zalianty, “Meradjoet Sendja” menghadirkan sejumlah nama besar di dunia seni, di antaranya Marcella Zalianty, Arswendy Bening Swara, Dira Sugandi, Isyana Sarasvati, Tanta Ginting, Jane Callista, Shanna Shannon, Fryda Lucyana, Lutfi Adriansyah, Ridho Rokhanah, dan Edopoaha.

Pertunjukan ini mengambil gagasan dan pemikiran sejumlah tokoh bangsa, mulai dari Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, hingga Tan Malaka. Sejarah tidak hanya disampaikan melalui narasi, tetapi dihidupkan lewat orkestrasi musik, dialog, karakter, serta atmosfer panggung.

Pendekatan tersebut membuat penonton diajak menyelami kembali berbagai pergulatan pemikiran mengenai Indonesia, kemerdekaan, dan cita-cita kebangsaan yang diperjuangkan para pendiri bangsa.

“Pertunjukan ini adalah persembahan seni, sejarah dan cinta untuk Indonesia. Karena kalau kita mencintai negara Indonesia, pasti kita ingin memberikan sesuatu yang terbaik. Jadi menumbuhkan cinta tanah air itu penting, salah satunya melalui kesenian,” ujar Olivia Zalianty, Produser sekaligus Sutradara “Meradjoet Sendja”.

Membawa Sejarah Lebih Dekat dengan Generasi Kini

“Meradjoet Sendja” hadir dengan pendekatan yang berbeda dalam mengenalkan sejarah kepada generasi masa kini. Di tengah kebiasaan masyarakat menikmati berbagai kisah sejarah melalui media digital, pertunjukan ini menghadirkan kembali sejarah melalui pengalaman langsung di atas panggung.

Penonton tidak hanya diajak mengenal sosok para pendiri bangsa, tetapi juga memahami kegelisahan, keberanian, serta pemikiran yang melatarbelakangi perjuangan mereka.

Salah satu pendekatan artistik yang menarik adalah pertemuan imajinatif antara sosok Tan Malaka dan Bung Karno dalam satu ruang. Adegan tersebut menjadi pintu untuk kembali membicarakan kemerdekaan, cita-cita kebangsaan, perjalanan Republik, serta bagaimana Indonesia seharusnya dimaknai pada masa kini.

Bagi Marcella Zalianty, yang juga menjabat Ketua Umum PARFI’56, pementasan tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada para pendahulu bangsa sekaligus upaya meneruskan nilai-nilai yang telah diwariskan.

“Kita ingin memberikan sumbangsih dari mereka yang telah memberikan arti, untuk kita yang meneruskan hari, dan untuk generasi yang kelak menjaga negeri ini. Mari kita terus melaju,” ujar Marcella.

Mengajak Penonton Memaknai Cinta kepada Indonesia

Mengusung tema “keberanian mencintai Indonesia”, “Meradjoet Sendja” tidak sekadar membawa penonton bernostalgia dengan sejarah.

Pertunjukan tersebut juga mengajak penonton merefleksikan kembali makna kemerdekaan dalam kehidupan saat ini. Berbagai pertanyaan tentang arti kemerdekaan, relevansi gagasan para pendiri bangsa. Hingga keberanian untuk mencintai Indonesia menjadi bagian dari pesan yang dibangun sepanjang pementasan.

Melalui musik, emosi, dialog, dan seni pertunjukan, sejarah ditempatkan bukan sekadar sebagai cerita masa lalu. Melainkan sebagai bahan refleksi untuk melihat perjalanan Indonesia hari ini dan masa depan.

Apresiasi yang diberikan setelah pementasan menjadi salah satu gambaran. Bahwa seni pertunjukan dapat menjadi medium efektif untuk mempertemukan sejarah dengan generasi masa kini.

“Meradjoet Sendja” sekaligus menunjukkan bahwa kisah tentang bangsa dapat disampaikan dengan cara yang lebih dekat, emosional, dan relevan tanpa kehilangan nilai sejarah yang menjadi fondasinya.

Pementasan ini turut mendapat dukungan dan berkolaborasi dengan sejumlah pihak. Di antaranya PARFI’56, Dompet Dhuafa, KEANA, Kementerian Kebudayaan RI, serta berbagai pihak lainnya. (Hen)

Previous articleHari Pramuka ke-65, Pemkab Bogor Tegaskan Komitmen Bangun Karakter Generasi Muda
Next articleAston Sentul Hadirkan “Merdeka Heritage Festival”, Semarak Kemerdekaan Selama Sebulan