Home Lokal Bogor Barat Disiapkan Punya Jalur Kereta, Parung Panjang-Jasinga Jadi Opsi yang Dikaji

Bogor Barat Disiapkan Punya Jalur Kereta, Parung Panjang-Jasinga Jadi Opsi yang Dikaji

0
5
Bogor Barat Disiapkan Punya Jalur Kereta, Parung Panjang-Jasinga Jadi Opsi yang Dikaji

KitaBogor – Pemerintah Kabupaten Bogor terus menyiapkan berbagai pilihan transportasi untuk memperkuat konektivitas antarwilayah. Jika kawasan Puncak tengah dikaji dengan opsi kereta gantung, kawasan Bogor Barat juga disiapkan memiliki transportasi berbasis rel melalui rencana jalur Jasinga-Tenjo atau Parung Panjang-Jasinga.

Pengembangan tersebut menjadi bagian dari arahan Bupati Bogor Rudy Susmanto agar pembangunan transportasi tidak hanya berorientasi pada penyelesaian kemacetan, tetapi juga membuka akses dan mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai wilayah.

Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor Ajat Rochmat Jatnika mengatakan konektivitas menjadi salah satu kunci agar pembangunan dapat dirasakan lebih merata.

“Pengembangan transportasi ini merupakan bagian dari upaya membangun konektivitas antarwilayah. Jadi bukan hanya di Puncak, tetapi juga bagaimana wilayah Bogor Barat memiliki dukungan transportasi massal melalui rencana kereta Tenjo-Jasinga,” kata Ajat.

Dua Alternatif Jalur Kereta

Berdasarkan dokumen rencana pengembangan infrastruktur transportasi berbasis rel Dinas Perhubungan Kabupaten Bogor, terdapat dua alternatif trase yang disiapkan untuk kawasan Bogor Barat.

Alternatif pertama adalah Tenjo-Jasinga dengan panjang sekitar 18,6 kilometer dan tiga titik stasiun. Jalur ini akan melintasi Kecamatan Tenjo dan Jasinga, dengan titik yang direncanakan berada di Tenjo, Kampung Singabraja, Pangaur, hingga Jasinga.

Alternatif kedua adalah Parung Panjang-Jasinga dengan panjang sekitar 26,5 kilometer dan enam titik stasiun. Jalurnya akan melintasi Parung Panjang, Rumpin, Cigudeg, Jasinga, dan Tenjo.

Dari kedua pilihan tersebut, hasil kajian awal Bapperida Kabupaten Bogor pada 2025 lebih merekomendasikan trase Parung Panjang-Jasinga.

Rekomendasi tersebut diperoleh setelah mempertimbangkan 15 kriteria yang mencakup aspek teknis, ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Bisa Terhubung dengan KRL

Rencana jalur kereta Bogor Barat tidak berdiri sendiri. Jalur tersebut diproyeksikan menjadi pengumpan atau feeder bagi masyarakat menuju Stasiun Tenjo maupun Parung Panjang, sehingga warga dapat melanjutkan perjalanan menggunakan jaringan KRL Commuter Line Jabodetabek.

Dalam kajian teknis, trase Parung Panjang-Jasinga memiliki panjang sekitar 27,26 kilometer dengan enam stasiun baru dan satu stasiun eksisting di Parung Panjang.

Kereta diproyeksikan memiliki waktu tempuh sekitar 24 menit. Jalur tersebut juga dirancang memiliki enam perlintasan sebidang dan 17 jembatan.

Sementara biaya operasional kereta diperkirakan berada di kisaran Rp20.000-Rp30.000 per penumpang.

Bagi masyarakat Bogor Barat, keberadaan jalur tersebut diharapkan bisa memberikan pilihan mobilitas yang lebih mudah sekaligus membuka akses menuju kawasan lain di Bogor dan Jabodetabek.

Transportasi untuk Mendorong Ekonomi

Ajat mengatakan transportasi tidak seharusnya hanya dilihat sebagai sarana berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Konektivitas yang lebih baik diharapkan ikut membuka peluang tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru.

“Prinsipnya, kita ingin transportasi menjadi bagian dari pengembangan wilayah. Ketika konektivitasnya semakin baik, mobilitas masyarakat meningkat, pusat-pusat ekonomi baru tumbuh dan manfaat pembangunan bisa dirasakan lebih merata,” ujarnya.

Rencana tersebut juga berkaitan dengan pengembangan Parung Panjang sebagai pusat pelayanan kawasan dan transit oriented development (TOD). Sementara Tenjo diarahkan untuk mendukung pengembangan stasiun barang serta konektivitas jaringan antarkota dan perkotaan.

Masih Panjang Sebelum Dibangun

Meski kajian sudah dilakukan, pembangunan jalur kereta Bogor Barat masih membutuhkan sejumlah tahapan.

Pemkab Bogor membagi proses pengembangan menjadi empat tahap. Mulai dari pra-studi kelayakan, penentuan trase indikatif, konsultasi publik, hingga studi kelayakan komprehensif dan AMDAL.

Setelah itu, proses dilanjutkan dengan penyusunan desain awal, detail engineering design (DED), pembebasan lahan, pencarian skema pendanaan, pembangunan fisik, pengadaan sarana, uji coba hingga operasional penuh.

Karena itu, Pemkab Bogor masih perlu mengkaji berbagai aspek, termasuk keselamatan, tata ruang, kebutuhan lahan, dampak lingkungan, kapasitas, integrasi antarmoda, serta kelayakan investasi.

“Semua harus dikaji secara komprehensif. Arahan Bupati adalah bagaimana kita menyiapkan transportasi yang tidak hanya menyelesaikan persoalan hari ini, tetapi juga menjadi fondasi pengembangan Kabupaten Bogor ke depan,” kata Ajat.

Jika terealisasi, jalur kereta Bogor Barat diharapkan tidak hanya menjadi pilihan baru bagi masyarakat untuk bepergian. Tetapi juga menjadi bagian dari perubahan wajah transportasi dan pertumbuhan kawasan Bogor Barat. (Mur)

Previous articlePemkab Bogor Kaji Kereta Gantung di Puncak, Alternatif Atasi Kemacetan dan Dukung Pariwisata
Next articlePegadaian dan POGI Hadirkan “Merdeka Stunting 2026”, Perkuat Edukasi Kesehatan Ibu Hamil