KitaBogor – Penguatan kemampuan berpikir anak sejak usia dini semakin menjadi perhatian berbagai pemangku kepentingan pendidikan di Indonesia. Seiring penerapan kebijakan wajib belajar 13 tahun yang mencakup satu tahun pendidikan prasekolah atau PAUD, pengembangan keterampilan Berpikir Komputasional (Computational Thinking) dinilai menjadi fondasi penting dalam mempersiapkan generasi masa depan.
Kemampuan Berpikir Komputasional kini dipandang sebagai salah satu keterampilan abad ke-21 yang dibutuhkan sepanjang hayat. Selain mendukung kemampuan pemecahan masalah, keterampilan ini juga berperan dalam memperkuat literasi, matematika, sains, hingga kemampuan berpikir kritis yang dibutuhkan anak di masa depan.
Akademisi Universitas Panca Sakti Bekasi, Irma Yuliantina, menjelaskan bahwa Berpikir Komputasional tidak identik dengan penggunaan komputer atau mengajarkan anak menjadi programmer sejak usia dini.
Menurutnya, konsep tersebut justru berfokus pada pengembangan kemampuan berpikir logis, kreatif, sistematis, dan efisien dalam menyelesaikan berbagai persoalan melalui aktivitas bermain yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini.
“Berpikir Komputasional membantu anak belajar mengenali pola, menyusun langkah-langkah penyelesaian masalah, serta mengambil keputusan secara terstruktur. Semua proses ini dapat dilakukan melalui permainan dan aktivitas belajar yang menyenangkan,” ujar Irma.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan selama tiga tahun di 36 PAUD mitra Djarum Foundation di Kabupaten Kudus, kemampuan Berpikir Komputasional dapat diintegrasikan dengan kurikulum yang berlaku, termasuk Kurikulum Merdeka.
Penerapannya juga tidak bergantung pada fasilitas teknologi yang mahal. Berbagai satuan pendidikan dapat mengimplementasikan konsep ini secara kreatif melalui kegiatan sehari-hari yang menstimulasi kemampuan berpikir anak.
Irma menilai, keterampilan ini menjadi pondasi penting bagi perkembangan kompetensi kognitif anak sebelum memasuki jenjang pendidikan dasar.
Meski demikian, implementasi Berpikir Komputasional di tingkat PAUD masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah keterbatasan pemahaman guru mengenai konsep dan metode penerapannya di dalam kelas.
Selain itu, hingga saat ini belum tersedia panduan nasional khusus yang mengatur implementasi Berpikir Komputasional di PAUD secara komprehensif.
“Penguatan kapasitas guru menjadi faktor utama. Selain itu, diperlukan dukungan kebijakan, pelatihan berkelanjutan, serta sumber belajar yang memadai agar implementasi dapat berjalan lebih merata di seluruh daerah,” katanya.
Direktur Pendidikan Anak Usia Dini Kemendikdasmen, Kurniawan, menyampaikan bahwa penguatan kompetensi abad ke-21 sebenarnya telah mendapatkan landasan kebijakan melalui penguatan muatan informatika dalam sistem pendidikan nasional.
Namun untuk jenjang PAUD, implementasi Berpikir Komputasional saat ini masih dilakukan secara kontekstual dan terintegrasi dalam kegiatan bermain serta aktivitas pemecahan masalah yang sesuai dengan perkembangan anak.
“Integrasi Berpikir Komputasional di PAUD dilakukan melalui pendekatan yang ramah anak dan sesuai karakteristik pembelajaran usia dini. Penguatannya membutuhkan dukungan kebijakan, peningkatan kompetensi guru, penyediaan sumber belajar, serta kolaborasi berbagai pihak,” ujar Kurniawan.
Saat ini, Kemendikdasmen bersama DPR juga tengah membahas Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas). Yang salah satu poinnya mengatur wajib belajar 13 tahun, termasuk pendidikan prasekolah.
Meski demikian, berbagai tantangan masih perlu diatasi, mulai dari kesenjangan akses pendidikan antarwilayah, keterbatasan sumber daya. Hingga belum optimalnya sistem asesmen yang mendukung pengembangan keterampilan abad ke-21.
Sebagai langkah konkret, Kemendikdasmen bersama akademisi dan lembaga penyelenggara pelatihan. Telah melakukan berbagai program penguatan kompetensi guru PAUD terkait implementasi Berpikir Komputasional.
Salah satu program tersebut telah menjangkau lebih dari 6.400 guru PAUD di Kabupaten Kudus dan sejumlah wilayah lain di Indonesia.
Sementara itu, Ketua Umum Forum Komunikasi Pendidikan Indonesia (FKPI), Trubus Rahardiansah, menilai. Penguatan kemampuan berpikir sejak usia dini merupakan investasi penting dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Menurutnya, peningkatan kualitas sumber daya manusia harus dimulai dari pendidikan anak usia dini melalui metode pembelajaran. Yang mampu mengembangkan kreativitas, kemampuan berpikir kritis, dan pemecahan masalah.
“Jika ingin menghasilkan generasi unggul pada 2045, maka penguatan kualitas pendidikan harus dimulai sejak PAUD. Berpikir Komputasional perlu mendapatkan dukungan kebijakan nasional agar implementasinya dapat dilakukan secara luas dan berkelanjutan,” kata Trubus.
Ia berharap pemerintah dapat menghadirkan panduan teknis dan kebijakan yang lebih kuat sehingga Berpikir Komputasional dapat terintegrasi secara sistematis dalam pembelajaran PAUD di seluruh Indonesia. (Mur)


